LIVEBelum ada notifikasi terbaruCek Peringatan
Metodologi

Cara Kerja SIPORA

Alur data dari radar cuaca hingga peringatan dini longsor di layar Anda

Alur Pemrosesan Data

Langkah 1

Radar C-Band

Radar BMKG Mlati mengirimkan pulsa radio dan menangkap pantulan dari partikel air hujan setiap 6 menit.

Langkah 2

Pemrosesan Data

Data mentah radar (reflectivity, dBZ) diproses menjadi format terstandar menggunakan algoritma quality control.

Langkah 3

Model Machine Learning

Algoritma Machine Learning mengubah data radar (dBZ, ZDR, KDP) menjadi estimasi curah hujan kuantitatif (QPE) dengan akurasi tinggi.

Langkah 4

Analisis Risiko

QPE dikombinasikan dengan data kemiringan lereng, jenis tanah, dan elevasi untuk menghasilkan skor risiko longsor per wilayah.

Langkah 5

Peringatan

Jika skor risiko melebihi threshold, sistem menghasilkan peringatan yang dikonfirmasi oleh petugas BMKG sebelum dipublish.

Langkah 6

Dashboard Publik

Data dan peringatan ditampilkan real-time di website SIPORA, dapat diakses oleh seluruh masyarakat DIY.

Spesifikasi Teknis

ParameterNilai
RadarC-Band (5 GHz), BMKG Stasiun Geofisika Mlati
Cakupan~100 km radius dari radar
Resolusi Spasial500 m × 500 m
Resolusi Temporal10 menit
Model QPELightGBM (Gradient Boosted Decision Trees)
Variabel InputZh (dBZ), ZDR, KDP, RhoHV
Update DataSetiap 10 menit (otomatis)
Data Historis Publik30 hari terakhir
Format OutputPNG raster, GeoJSON, CSV

Keterbatasan Data

  • Estimasi QPE bergantung pada kualitas sinyal radar — gangguan atmosfer, beam blockage, atau clutter dapat mengurangi akurasi.
  • Model LightGBM dilatih menggunakan data pos hujan manual yang jumlahnya terbatas di DIY, sehingga akurasi di area yang jauh dari pos hujan bisa berkurang.
  • Zona risiko longsor bersifat indikatif berdasarkan model statistik. Asesmen geologi dan geoteknik lapangan tetap diperlukan untuk keputusan perencanaan.
  • Data publik dibatasi 30 hari terakhir. Data historis lebih panjang tersedia untuk staf BMKG dan mitra penelitian resmi.